Hubungan antara Lebar Tekanan Nadi sebagai Prediktor Disfungsi Diastolik pada Pasien Kurang dari 45 Tahun

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Wisudawan Wisudawan

Abstract

Fungsi diastolik akhir-akhir ini menarik perhatian para ahli karena telah terdapat bukti-bukti bahwa kelainan fungsi diastolik mempunyai peranan yang penting pada berbagai bentuk kelainan jantung dan kekakuan vaskular, dimana penilaian fungsi diastolik memakan waktu dan kurang praktis untuk evaluasi secara serial. Beberapa penelitian terakhir, diantaranya Mahazarin dkk menunjukkan bahwa pelebaran tekanan nadi, menjadi salah satu penanda kekakuan vaskular berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu menilai hubungan antara lebar tekanan nadi dan disfungsi diastolik pada pasien £ 45 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian studi yang dilaksanakan di RS. Ibnu Sina Makassar pada tahun 2016 dengan jumlah sampel 74 subjek. Populasi penelitian adalah semua pasien poli jantung yang datang pertama kali berusia £ 45 tahun. Penilaian dilakukan dengan tanya jawab, pemeriksaan fisik dan tekanan darah dan echocardiografi. Data diuji dengan chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan nadi yang melebar (>60 mmHg) lebih banyak didapatkan kejadian disfungsi diastolik dibandingkan dengan fungsi diastolik normal yaitu 8 orang (10.81%). Sedangkan lebar tekanan nadi yang normal yaitu (40-60 mmHg) paling banyak didapatkan pada kelompok dengan fungsi diastolik normal yaitu 47 orang (63.51%) dibandingkan kelompok dengan tekanan nadi normal disertai gangguan fungsi diastolik yaitu 18 orang (24.32%). Berdassarkan dari penelitian ini maka didapatkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tekanan nadi melebar dengan gangguan fungsi diastolik pada pasien £ 45 tahun dengan p<0,05

##plugins.themes.academic_pro.article.details##